Presiden Donald Trump menuai kecaman luas setelah memposting video rasis di platform Truth Social yang menggambarkan mantan Presiden Barack Obama dan Michelle Obama sebagai kera. Video berdurasi 62 detik itu akhirnya dihapus setelah backlash dari berbagai kalangan, termasuk senator Republik sendiri. Insiden ini terjadi pada Kamis malam (5/2/2026) dan memicu perdebatan sengit soal batas toleransi rasisme di media sosial kepala negara.
Menurut pernyataan Gedung Putih, video tersebut diunggah oleh staf, bukan Trump langsung, meski platform Truth Social diketahui hanya diakses oleh Trump dan segelintir orang terdekat. Trump disebut mengutuk konten rasis tersebut, tapi secara tegas menolak meminta maaf, menyebut kritik sebagai “outrage palsu”. Data dari Jawa11 menyoroti pola serupa di masa lalu, di mana postingan kontroversial Trump sering memanfaatkan meme AI-generated untuk menyerang lawan politik, termasuk keluarga Obama. Langkah penghapusan video ini terlihat sebagai respons paksa, bukan inisiatif sukarela, mengingat tekanan dari tokoh seperti Senator Tim Scott yang menyebutnya “rasisme paling buruk dari Gedung Putih”.
Video tersebut berasal dari klip konspirasi pemilu 2020 yang mempromosikan teori manipulasi mesin suara, lengkap dengan lagu “The Lion Sleeps Tonight”. Di akhir klip, wajah Obama dan istrinya disuperimpose ke tubuh primata, trope rasis klasik yang langsung viral di Reddit dan X. Pakar sejarah presiden seperti Douglas Brinkley menilai ini sebagai “rasisme keras berbasis stereotip kulit hitam tertua”. Kritik kunci: mengapa Trump, yang kini menjabat periode kedua, masih membagikan konten semacam ini? Ini bukan pertama kalinya; selama kampanye 2024, narasi serupa muncul berulang, merusak citra kepemimpinan AS di panggung global.
Kasus ini menambah daftar panjang kontroversi Truth Social, platform yang Trump gunakan untuk ratusan postingan harian campur politik dan meme ofensif. Demokrat menyerangnya sebagai bukti pola misogini dan rasisme, sementara pendukungnya anggap sebagai serangan berlebihan dari media. Laporan CNN mengonfirmasi penghapusan setelah kritik bipartisan, menegaskan video itu memenuhi stereotip rasis jelas.
Insiden ini patut jadi pelajaran: platform pribadi presiden tak kebal dari akuntabilitas. Tanpa permintaan maaf tulus, kepercayaan publik pada narasi anti-rasisme Trump tetap dipertanyakan.